Trik Marketing Yang Dapat Merusak Brand Yang Harus Dihindari

Trik Marketing Yang Dapat Merusak Brand Yang Harus Dihindari

Pandoors – Sejak awal era media sosial, pemilik merek selalu ingin menjadi yang pertama tahu cara paling efektif menjual produk mereka di sana. Nah, setelah ada yang sedang dibicarakan, mereka juga akan berlomba-lomba ikut wave atau berusaha tetap top dengan ikut-ikutan mempromosikan produknya. Baru-baru ini, toko jeruk di pasaran juga mencoba melakukan ini, tetapi malah menerima berbagai kritik karena menghapus tagar karena menggunakan tema sensitif untuk mempromosikannya.

Beberapa waktu lalu, saat kasus Eiger ramai, brand yang juga ingin ikut tren open mailing ini malah dikritik oleh para surfer dan harus menghapus file yang diunggah. Ini menjadi bukti bahwa trik marketing mengikuti trend yang ada tidak selalu berhasil, kesalahan justru bisa merusak brand. Jika Anda tidak ingin hal yang sama terjadi, beberapa hal ini perlu dihindari. Ayo kita dengarkan!

1. Newsjacking

Biasanya, pembajakan berita melibatkan diskusi topik dari perspektif merek, memberikan wawasan, opini, atau berbagi pengalaman terkait topik topik. Namun, jenis riasan ini harus diteliti dengan cermat agar insiden terkait merek tidak dianggap kurang sensitif dan simpatik terhadap penyebabnya, apalagi jika ada korbannya. Juga, memanfaatkan trend saat ini, jika tidak hati-hati, bisa disebut plagiarisme, dan jika terasa seperti paksaan, itu justru akan membuat Anda merinding.

2. Hashtag

Masih terkait tren, masalah biasanya menjadi topik populer ketika muncul hashtag atau hashtag. Hal ini membuat penasaran banyak orang, sehingga biasanya orang mengetahuinya dengan menggunakan hashtag, akhirnya digunakan oleh beberapa event, salah satunya mungkin dicap untuk memperluas audiens. Namun saat melakukan hal tersebut, penelitian harus dilakukan terlebih dahulu agar tidak merusak tujuan utama dari mereka yang memulai gerakan hashtag. Salah, bahkan bisa membuat kesalahan.

3. Mengadakan Lomba

Metode pemasaran yang efektif adalah penyelenggaraan kontes karena ini akan meningkatkan interaksi antar pengguna dan menjadi lebih luas. Namun, dengan metode ini, Anda memberi pengguna kontrol atas kampanye yang sedang berjalan. Bukan tidak mungkin bagi mereka untuk menggunakannya untuk keuntungan pribadi atau malah menggunakan acara tersebut untuk lelucon yang dapat mengalihkan kampanye dari fokus utamanya dan membentuk opini publik yang berbeda. Oleh karena itu, penting untuk menerapkan filter.

4. Guerilla Marketing

Laporan dari berbagai sumber, selain berusaha menggunakan budget serendah mungkin, gerilya juga menggunakan strategi pemasaran selain promosi konvensional, yang terkadang berdampak mengejutkan. Ada berbagai jenis dengan contoh yang berbeda, misalnya gerilyawan luar ruangan seperti memasang instalasi yang menarik untuk menjual produk kampanye menggunakan metode viral marketing yang membangkitkan rasa ingin tahu konsumen.

Sayangnya ini juga bisa menjadi “bahaya” jika Anda tidak berhati-hati, sedapat mungkin, tidak mengganggu tindakan orang lain atau panik, karena hal ini dapat mengakibatkan rusaknya citra yang dibangun oleh merek tersebut.

5. Penggunaan Influencer

Pemasaran influencer sering dipilih sebagai metode perluasan audiens di era media sosial. Saat memilih influencer, sebaiknya lakukan penelitian menyeluruh dan, jika mungkin, hindari memilih orang yang bermasalah, terutama masalah yang terkait dengan bidang tempat merek tersebut terlibat. Pasalnya, meski masalah sudah berlalu, kini sidik jari akan mencerminkan kebalikannya, yang bisa merugikan merek Anda jika ikut terlibat.

Cheat marketing sudah lama dilakukan di berbagai media, namun sekarang strategi ini bisa dilakukan dalam hitungan jam sehingga masih bisa relevan dengan masalah yang tiba-tiba muncul dengan cepat akibat internet khususnya media sosial. Jika Anda tidak berhati-hati, merek yang dibangun selama bertahun-tahun hanya akan hancur dalam hitungan jam.

Referensi:

Maxmanroe